Entri Populer

Kamis, 27 Oktober 2011

PENERAPAN PENDEKATAN GANJARAN DALAM USAHA PENCIPTAAN SUASANA TERTIB BAGI SISWA OVERAKTIF


PENERAPAN PENDEKATAN GANJARAN DALAM USAHA PENCIPTAAN SUASANA TERTIB BAGI SISWA OVERAKTIF


MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas Ilmu Pendidikan


Dosen Pengampu: Sugiyatno, M. Pd.


Disusun oleh:
Mahliga Pratiwindyanti ( NIM. 09108241027 )
KELAS: S. 3B



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2010


BAB I
PENDAHULUAN

 

A.   Latar Belakang

Menurut Mallary M.Collins, diterjemahkan oleh : Ny.Kathleen Sri Wardhani, dalam bukunya yang berjudul Mengubah Perilaku Peserta didik, anak overaktif adalah anak yang perilakunya terlalu aktif yang diakibatkan oleh pengendalian diri yang kurang efektif dan tidak konsisten. ( 2002 : 112 ).  Sebagian besar peserta didik ini oleh guru disebut sebagai “tukang melamun”, “tidak pernah mennyelesaikan tugas”, “tidak bisa duduk tenang”, “selalu berpindah-pindah tempat duduk atau berlari-lari di kelas”, “gelisah”, “ceroboh”, “hanya mengikuti dorongan hati”, “mudah mengalihkan perhatian”, “banyak bicara”.  Semua sifat yang berhubungan dengan perilaku anak overaktif menghambat usaha berprestasi dan/atau mengganggu aktifitas di dalam kelas. Selain itu peserta didik ini sering mengalami kesulitan dalam bergaul dengan teman sebayanya, terutama dalam permainan yang melibatkan lebih dari satu anak. Masalah tersebut tentunya memerlukan suatu perhatian khusus dari pendidik.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penangangan walikelas dan guru terhadap peserta didik yang overaktif masih mengarah pada sangsi-sangsi atau hukuman, guru masih cenderung melihat pada kesalahan yang dibuat oleh peserta didik, daripada keberhasilannya, prestasinya serta perilaku baik yang pernah dilakukan oleh peserta didik. Sikap guru semacam ini menyebabkan peserta didik merasa tidak pernah dapat berbuat benar. Peserta didik, seperti halnya orang dewasa, cenderung menghindari situasi yang mereka anggap negatif, selain itu, untuk pribadi-pribadi tertentu, hukuman merupakan dorongan yang kuat dan merangsang untuk berperilaku yang tidak diterima.
Selain itu salah satu akibat penerapan hukuman sebagai teknik pengendali kelas adalah bahwa peserta didik akan bertindak karena rasa takut pada akibat yang akan menimpa dirinya, bukan karena hasrat untuk berprestasi. Rasa takut bukanlah bukanlah bentuk emosi yang patut dikembangkan dalam diri peserta didik. Lagi pula hukuman bila sering diterapkan, maka rasa takut akan terus berkembang dan diperkuat. Penerapan hukuman sebagai metode utama pengendalian sering menimbulkan rasa marah dan kecewa para peserta didik. Peserta didik yang sering mendapat hukuman sering merasa diperlakukan tidak adil dan memendam rasa tidak suka terhadap guru. Terkadang perasaan ini diungkapkan secara langsung ( umpamanya :” aku benci pada Ibu.” “Bapak Guru jahat” ). Tetapi lebih sering kemarahan itu diledakkan melalu berbagai bentuk perilaku agresif yang pasif, seperti menentang, membangkang, keras kepala, tidak patuh, dan memberontak. Setiap anak berbeda dalam menanggapi hukuman. Beberapa anak patuh, yang lain marah atau melawan sementara yang lain lagi menarik diri, menimbun emosinya, gugup merasa bersalah atau takut, kurang percaya diri, bercitra diri negatif atau menunjukkan gejala gangguan emosi atau pribadi.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa apapun jenis hukuman yng diterapkan oleh kebanyakan guru termasuk perhatian yang negatif dalam bentuk ucapan, bentakan, teriakan, kritikan, celaan, dan bentuk hukuman yang lain, bila terlalu sering diterapkan akan mempengaruhi perkembangan kepribadian yang sehat dan biasanya merupakan metode yang tidak efektif dalam proses pendidikan.
Maka dalam pengendalian perilaku peserta didik, guru perlu mengalihkan penekanan dari perhatian atas kelakuan yang buruk ke perhatian atas kelakuan yang benar. Dalam sikap ini guru lebih memjperhatikan perilaku yang baik dan kurang memperhatikan perbuatan peserta didik yang tidak pantas atau kelakuan yang buruk. Metode tersebut disebut dengan Sistim Ganjaran. Yaitu pemberian ganjaran untuk perilaku yang baik, cara ini akan memberikan hasil yang lebih memuaskan daripada menghukum.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis ingin menjabarkan tentang penerapan sistem ganjaran sebagai salah satu upaya penciptaan suasana tertib di kelas bagi siswa overaktif untuk kemudian makalah ini diberi judul “Penerapan Pendekatan Ganjaran Dalam Usaha Penciptaan Suasana Tertib Bagi Siswa Overaktif”.

B.   Identifikasi Masalah

     Tujuan peserta didik belajar di sekolah adalah agar ia dapat mengikuti pelajaran sehingga dapat memperoleh prestasi belajar yang menggembirakan. Namun bila peserta didik overaktif yang ditunjukkan dengan perilaku-perilakunya yang buruk, di antaranya : sering melakukan kebiasaan yang kurang baik di kelas, seperti selalu ramai di kelas, sering berpindah-pindah tempat duduk, sering mengganggu teman,  sering tidak mengerjakan PR, tidak memperhatikan guru yang mengajar, dan lain-lain,  maka tujuan itu tidak dapat dicapai.
Perilaku peserta didik seperti di atas perlu penanganan yang khusus, peserta didik berperilaku  seperti di atas pasti ada penyebabnya, mungkin pengaruh lingkungan keluarga, lingkungan pergaulan, lingkungan sekolah, atau mungkin karena dorongan dari dalam diri anak sendiri, yaitu anak ingin mendapat perhatian.
Perilaku kurang baik tersebut dapat disebabkan oleh dorongan untuk mendapatkan perhatian, maka penanganan yang paling efektif adalah dengan memberikan perhatian pada perilaku anak, perhatian pada perilaku yang baik yaitu dengan memberikan penghargaan atas perilakunya yang baik, bukan memberi hukuman.
    Sebagai bentuk ironi, banyak timbul masalah akibat penerapan hukuman dalam pengendalian perilaku peserta didik. Dalam hal ini guru lebih memusatkan perhatian pada perilaku-perilaku peserta didik yang buruk, guru kurang menaruh perhatian pada kebaikan-kebaikan yang sudah dilakukan peserta didik. Padahal semua anak berperilaku untuk memperoleh imbalan yang menyenangkan. Konsekuensi dari imbalan itu dapat meningkatkan, memelihara perilaku yang baik dan  mengurangi perilaku-perilaku yang buruk. Imbalan tersebut berupa ganjaran. Ganjaran akan memberikan dorongan dan motivasi pada peserta didik untuk berperilaku baik lagi. Maka melalui metode ganjaran ini sebagai langkah penanganan yang efektif dalam pengendalaian perilaku  peserta didik overaktif di kelas.

C.   Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah, maka permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut :
“Bagaimana   Penerapan Pendekatan Ganjaran Dalam Usaha Penciptaan Suasana Tertib Bagi Siswa Overaktif?”.

D.   Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat dirumuskan tentang tujuan penulisan makalah ini, yakni untuk mengetahui penerapan pendekatan ganjaran dalam usaha penciptaan suasana tertib bagi peserta didik overaktif.

E.    Manfaat Penulisan

     Dari segenap pembahasan yang telah dipaparkan, harapan yang ingin diwujudkan dalam makalah ini tercakup secara teoretis dan secara praktis yang meliputi:
1.    Secara teoretis
Makalah ini diharapkan berguna untuk memberikan sumbangan terhadap usaha peningkatan dan pengembangan mutu pendidikan.
2.    Secara praktis
Tujuan praktis dari makalah ini adalah: Mendorong mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Yogyakarta untuk dapat memahami penerapan pendekatan ganjaran dalam usaha penciptaan suasana tertib bagi peserta didik overaktif.

F.    Metodologi Penulisan
Metode yang dKigunakan penulis dalam penulisan makalah ini antara lain:
1.    Studi kepustakaan
Dengan memanfaatkan Perpustakaan Universitas Negeri Yogyakarta Kampus 1 dan Kampus 2 guna memperoleh referensi utama.
2.    Studi elektromedia
Dengan memanfaatkan fasilitas Internet dan situs-situs pendukung guna memperoleh referensi sekunder.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.   Kajian Teoritis tentang Anak Overaktif

1.    Pengertian Overaktif
Menurut Mallary M.Collins, diterjemahkan oleh : Ny.Kathleen Sri Wardhani, dalam bukunya yang berjudul Mengubah Perilaku Peserta didik, adalah anak yang perilakunya terlalu aktif yang diakibatkan oleh pengendalian diri yang kurang efektif dan tidak konsisten ( 2002 : 112 ).  Sebagian besar anak-anak ini oleh guru disebut sebagai “tukang melamun”, “tidak pernah mennyelesaikan tugas”, “tidak bisa duduk tenang”, “selalu berpindah-pindah tempat duduk atau berlari-lari di kelas”, “gelisah”, “ceroboh”, “hanya mengikuti dorongan hati”, “mudah mengalihkan perhatian”, “banyak bicara”.  Semua sifat yang berhubungan dengan perilaku anak overaktif menghambat usaha berprestasi dan/atau mengganggu aktifitas di dalam kelas. Selain itu anak ini sering mengalami kesulitan dalam bergaul dengan teman sebayanya, terutama dalam permainan yang melibatkan lebih dari satu anak.
Melebihi kebanyakan anak sesusianya, anak overaktif selalu gelisah dan usil saat duduk, tidak bisa duduk diam, berlari saat ia seharusnya berjalan tenang, melompat dari aktifitas yang satu ke aktivitas yang lain, mengganggu anak lain, atau tampak seakan-akan tidak pernah berhenti bercakap. Pada umumnya ia menunjukkan aktivitas fisik yang tinggi  dan tampaknya tidak pernah bisa diam.
Anak overaktif jika dibandingkan dengan anak sebaya lainnya, juga kentara dari sikapnya dalam memusatkan perhatian. Ia mungkin terlalu mengikuti dorongan hati dan mudah mengalihkan perhatian, tidak dapat konsentrasi lama, bertindak sebelum berpikir, sulit mengikuti petunjuk, mudah lupa, mudah kesal dan merasa terganggu. Ia tidak belajar dari kesalahan dan pengalaman yang sudah lalu, sulit konsentrasi, dan tidak mempunyai daya tahan melawan frustrasi.
Kebanyakan anak yang overaktif menunjukkan masalah baik di bidang motorik maupun kognitif. Ada anak yang lebih menonjolkan aktivitas fisik daripada masalah kurang perhatian dan berkonsentrasi, sementara yang lain justru kebalikannya. Kadang kala, ada anak yang menunjukkan kesulitan karakteristik hanya dalam satu bidang saja, contohnya, ia mungkin dapat duduk dengan tenang dan duduk dikursinya tetapi tidak dapat berkonsentrasi pada tugasnya.

2.    Jenis-jenis Overaktif
Menurut Mallary M.Collins, diterjemahkan oleh : Ny.Kathleen Sri Wardhani, Overaktif dapat dikelompokkan dalam 5 kategori yang didasarkan atas alasan terjadinya peningkatan aktivitas.
Overaktif dapat disebabkan karena :
a.    Teknik pengendalian diri yang kurang efektif atau tidak konsisten.
b.    Reaksi Hiperaktif / Hiperkinetik di masa kanak-kanak.
c.    Gangguan emosi yang cukup berat.
d.    Depresi kerusakan otak/intelegensi.
e.    Kombinasi dari yang di atas.
Perilaku overaktif dalam kebanyakan anak disebabkan  oleh pengendalian diri yang tidak efektif maupun perilaku hiperaktif. Karena hal ini mencakup sebagian besar perilaku overaktif.  Dalam menangani perilaku in, penting artinya mengikutsertakan orangtua. Guru dapat memastikan bahwa perilaku overaktif yang ditunjukkan di sekolah juga diperlihatkan di rumah. Karena itu dengan mengkombinasikan usaha guru bersama dengan usaha orangtua dapat menghadapi perilaku dengan konsisten. Hal ini akan memperbesar kemungkinan meraih keberhasilan dalam menghadapi perilaku overaktif ini.
Berikut ini akan dibahas kategori umum dalam perilaku overaktif :
a.    Teknik pengendalian diri yang kurang efektif . 
Anak-anak yang tidak dikendalikan secara efektif di rumah sering memperlihatkan perilaku overaktif. Contohnya, anak yang berkuasa di rumah atau manja akan menemui kesulitan jika ia diminta melakukan sesuatu. Dirumah ia mungkin tidak patuh, keras kepala, hidup tidak teratur, dan seterusnya. Perilaku ini merembet ke situasi yang lain, seperti sekolah. Anak overaktif tipe ini akan mencoba hanya melakukan kesukaannya saja. Ia terus melihat keluar jendela dan melamun karena lebih menyenangkan baginya daripada mendengarkan perkataan guru. Ia tidak lama duduk di tempatnya karena ia lebih suka berkeliling dan menemui teman-temannya. Ia terus gelisah, banyak bicara, tidak mematuhi petunjuk, dan memperlihatkan berbagai macam perilaku overaktif lainnya.
b.    Reaksi Hiperaktif / Hiperkinetik. 
Tidak semua anak overaktif termasuk dalam kelompok hiperaktif. Anak hiperaktif adalah anak yang perilakunya terlalu aktif disebabkan oleh reaksi hiperkenetik di masa kanak-kanak. Anak yang hiperaktif berperilaku overaktif karena secara fisik ia belum dapat mengendalikan diri. Ia tidak menyelesaikan tugasnya karena ia tidak dapat konsentrasi cukup lama. Ia melamun karena tidak bisa cukup lama memberikan perhatian dan ia tidak mematuhi petunjuk karena mudah sekali mengalihkan perhatian. Karena daya diri tidak cukup berkembang, ia tidak dapat dipaksa untuk duduk diam dan berkonsentrasi. Karena itu ia gelisah, usil dan biasanya terus menerus bergerak. Perilaku overaktifnya lebih banyak lebih banyak disebabkan karena ia tidak dapat mengendalikan dirinya.
c.    Gangguan emosi yang cukup berat.
Gangguan emosi yang cukup berat dapat menyebabkan peningkatan dalam aktivitas. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang tidak pasti, tidak tegas dan tidak konsisten sering bingung, tidak yakin dan tidak dapat menerima kenyataan. Dalam keadaan ini tingkat aktivitas menunjukkan peningkatan.
d.    Depresi kerusakan otak / intelegensi.
Anak yang  intelegensinya termasuk kelompok lamban dan agak terbelakang sering menunjukkan perilaku overaktif. Hal ini merupakan karakteristik anak yang mempunyai intelegensi di bawah rata-rata, dan tampaknya diakibatkan oleh sejenis kerusakan pada otak.
e.    Kombinasi dari yang disebutkan di atas.
Seperti semua jenis perilaku, jarang sekali ada penyebab yang jelas dan tegas. Perilaku itu sangat rumit dan biasanya merupakan akibat dari interaksi beberapa faktor. Perilaku overaktif sering merupakan kombinasi hal-hal di atas, diantaranya adalah faktor pengendalian diri yang tidak efektif.

3.    Menghadapi Anak Overaktif
Sering kali orangtua ingin menghubungi guru untuk membeicarakan perilaku anak mereka. Oleh karena itu , jika ingin menghadapi anak yang overaktif, guru jangan ragu-ragu menghubungi orangtuanya.
Langkah pertama dalam menghadapi anak yang overaktif adalah mencari penyebab peningkatan aktivitasnya. Setelah diketahui penyebabnya maka dapat digunakan beberapa teknik , meliputi :
a.    Teknik Pengendalian Dalam Kelas
Lingkungan yang teratur dan tertib sangat bermanfaat bagi semua anak yang berperilaku overaktif. Hampir semua anak overaktif menemui kesulitan dlam menghadapi perubahan dan ketidakpastian. Setiap perubahan dalam hidup rutin mereka akan mengarah pada peningkatan aktivitasnya. Misalnya, biasanya kelas mendapat pelajaran kesenian pada suatu hari. Namun, hari itu diisi oleh pelajaran  yang lain, maka anak langsung menjadi gusar, gelisah dan tidak dapat dikendalikan sepanjang hari.
Karena anak ini membutuhkan ketertiban, maka salah satu cara menghadapi perilakunya, adalah menciptakan keteraturan dan ketertiban dalam kelas. Juga penting menerapkan disiplin yang tegas. Sistim disiplin hendaknya mengetrapkan sikap konsisten. Peraturan hendaknya hendaknya dinyatakan secara rinci beserta konsekuensinya.

b.    Teknik Ganjaran
Seorang peserta didik misalkan menunjukkan perilaku overaktif berupa perilaku-perilaku yang merisaukan. Karena perilaku itu menghambat jalannya proses pembelajaran, maka secara khusus anak ini ditangani. Amati perilaku anak tersebut dan mencatat bahwa ia mengganggu ketenteraman anak lain (meninggalkan tempat duduk untuk bercakap-cakap dengan naka lain di kelas). Langkah berikutnya adalah menentukan frekuensi perilaku. Anda mengamati dan mencatat bahwa ia meninggalkan bangkunya untuk bercakap-cakap dengan anak lain sebanyak 10 kali dalam sehari. Dengan menggunakan sistim ini, guru akan mengatakan kepada anak, Bapak membagi dalam sehari dalam penanggalan waktu setengah jam, Bapak akan memberi tanda bintang pada setiap setengah jam kau dapat bekerja dengan tenang tanpa mengganggu anak lain, artinya kau dapat duduk dibangkumu dan tidak bercakap-cakap. Menjelang akhir pelajaran berakhir guru menukar tanda bintang itu dengan ganjaran, berupa sesuatu yang menyenangkan. Misalnya : sanjungan langsung, pemberian nilai perilaku, mengacungkan jempol, atau mungkin dapat membayar anak dengan permen, makanan kecil, atau bahkan sanjungan dari peserta didik lain (tepuk tangan, misalnya) dan penghargaan yang lain.
Pemberian ganjaran pada anak menjadi dorongan dan motivasi pada peserta didik. Memamerkan hasil kerja yang dibuat oleh peserta didik juga akan menghasilkan pengakuan orang lain dan akan akan menunjang untuk berperilaku baik. Bagian ini akan dibahas lebih rinci pada bab berikutnya.

B.   Kajian Teoritis Pendekatan Ganjaran
1.    Pengertian Pendekatan Ganjaran
Menurut Menurut Singgih D, Gunarso , dalam bukunya Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja yang diterbitkan oleh BPK.Gunung Mulia, pendekatan ganjaran adalah teknik pengendalian perilaku anak dengan memberi sesuatu yang berfungsi sebagai insentif , sesuatu yang penting bagi anak dan memperbesar kemungkinan terulangnya perilaku yang diinginkan ( 1986 : 108 ).
Merangkaikan konsekuensi dengan peraturan atau harapan merupakan aspek yang paling penting dalam pengendalian perilaku. Semua anak berperilaku untuk mendapatkan imbalan yang menyenangkan atau untuk menghindarkan situasi-situasi yang kurang menyenangkan. Konsekuensi dapat meningkatkan , memelihara atau mengurangi perilaku tertentu, tergantung penerapannya.
Ada 3 bentuk konsekuensi utama yang dapat digunakan dalam merubah perilaku, antara lain:
a.    Penghargaan atau konsekuensi positif
Yaitu dengan memberikan ganjaran bila dijumpai perilaku anak yang baik, dengan kata lain sertailah perilaku itu dengan perhatian yang positif, yaitu sesuatu yang penting dan menyenangkan bagi anak.
b.    Hukuman atau konsekuensi negatif
Yaitu dengan menjatuhi hukuman bila dijumpai anak berperilaku kurang baik, dengan kata lain sertailah perilaku itu dengan perhatian yang negatif, yaitu sesuatu yang tidak menyenangkan peserta didik.
c.    Pengabaian atau tanpa konsekuensi
Yaitu mengabaikan jika dijumpai anak berperilaku kurang baik. Memang sangat mungkin bahwa perhatian yang anda berikan itu menjadi alasan perilaku itu. Oleh karena itu jangan menyertai perilaku itu dengan perhatian yang negatif atau yang positif.
Meskipun ada tiga konsekuensi utama ( Penghargaan/Ganjaran, Hukuman dan Pengabaian ) yang dapat diterapkan dalam menanamkan disiplin atau pengendalian perilaku peserta didik, sesuai dengan batasan permasalahan pada karya tulis ini, maka hanya dibahas salah satu konsekuensi  yaitu konsekuensi positif / Penghargaan / Ganjaran.
Pada pendekatan ganjaran, guru lebih memperhatian perilaku-perilaku yang baik peserta didik dan kurang memperhatikan perbuatan-perbuatan yang buruk dan tidak pantas. Pendekatan posistif ini terutama dilakukan dengan memberikan konsekuensi berupa ganjaran. Ganjaran jangan diartikan sebagai sogokan, uang dan sejenisnya. Penghargaan dapat didefinisikan sebagai susuatu yang berfungsi sebagai insentif, sesuatu yang penting bagi anak dan memperbesar kemungkinan terulangnya perilaku yang diinginkan.
Penghargaan ini sering harus bersifat pribadi. Apa yang diberikan kepada seorang peserta didik mungkin tidak banyak arti bagi peserta didik lain. Karena itu, pentinglah menentukan apa yang mendorong peserta didik. Ini dapat dilakukan dengan mengamati peserta didik secara cermat.

2.    Teori Behavioristik Sebagai Landasan Filosofis Pendekatan Ganjaran
A.   Pengertian Teori Belajar Behavioristik
Teori Behavioristik merupakan sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Kemudian teori ini berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap pengembangan teori pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru ( stimulus ) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan ( reinforcement ). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan ( negative reinforcement ) maka respon juga semakin kuat.

  1. Prinsip-Prinsip dalam Teori Behavioristik
1.    Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri, bukan sebagai perwujudan dari jiwa atau mental yang abstrak
2.    Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo problem untuk sciene, harus dihindari.
3.     Penganjur utama adalah Watson : overt, observable behavior, adalah satu-satunya subyek yang sah dari ilmu psikologi yang benar.
4.     Dalam perkembangannya, pandangan Watson yang ekstrem ini dikembangkan lagi oleh para behaviorist dengan memperluas ruang lingkup studi behaviorisme dan akhirnya pandangan behaviorisme juga menjadi tidak seekstrem Watson, dengan mengikutsertakan faktor-faktor internal juga, meskipun fokus pada overt behavior tetap terjadi.
5.     Aliran behaviorisme juga menyumbangkan metodenya yang terkontrol dan bersifat positivistik dalam perkembangan ilmu psikologi.
6.     Banyak ahli membagi behaviorisme ke dalam dua periode, yaitu behaviorisme awal dan yang lebih belakangan.

C.   Tokoh-Tokoh Aliran Behavioristik
1.       Edward Lee Thorndike ( 1874-1949 )
Menurut Thorndike, belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, juga dapat berupa pikiran, perasaan, gerakan atau tindakan. Teori Thorndike ini sering disebut teori koneksionisme.
Prinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi ( connection ) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. Misalnya, jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit, maka ia akan cenderung mengerjakannya. Apabila hal ini dilaksanakan, ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskan.
Dengan adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memberikan sumbangan cukup besar di dunia pendidikan tersebut, maka ia dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan. Selain itu, bentuk belajar yang paling khas baik pada hewan maupun pada manusia menurutnya adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu.
Menurut Thorndike terdapat tiga hukum belajar yang utama yaitu :
    1. The Law of Effect ( Hukum Akibat )
Hukum akibat yaitu hubungan stimulus respon yang cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan. Hukum ini menunjuk pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan. Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi. Sebaliknya, suatu perbuatan yang diikuti akibat tidak menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak akan diulangi. Koneksi antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak dapat menguat atau melemah, tergantung pada “buah” hasil perbuatan yang pernah dilakukan. Misalnya, bila anak mengerjakan PR, ia mendapatkan muka manis gurunya. Namun, jika sebaliknya, ia akan dihukum. Kecenderungan mengerjakan PR akan membentuk sikapnya
    1. The Law of Exercise ( Hukum Latihan )
Hukum latihan yaitu semakin sering tingkah laku diulang/dilatih ( digunakan ), maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. Dalam hal ini, hukum latihan mengandung dua hal:
-          The Law of Use : hubungan-hubungan atau koneksi-koneksi akan menjadi bertambah kuat, kalau ada latihan yang sifatnya lebih memperkuat hubungan itu
-          The Law of Disuse : hubungan-hubungan atau koneksi-koneksi akan menjadi bertambah lemah atau terlupa kalau latihan-latihan dihentikan, karena sifatnya yang melemahkan hubungan tersebut.
    1. The Law of Readiness ( Hukum Kesiapan )
Hukum kesiapan yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.
Prinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar merupakan suatu kegiatan membentuk asosiasi ( connection ) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. Misalnya, jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit, maka ia akan cenderung mengerjakannya. Apabila hal ini dilaksanakan, ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskan.

2.       John Watson ( 1878-1958 )
Watson adalah seorang behavioris murni, kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperi Fisika atau Biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh mana dapat diamati dan diukur.
Menurut Watson, belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon tersebut harus dapat diamati dan diukur. Jadi perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati.
Pandangan utama Watson:
a.    Psikologi mempelajari stimulus dan respons ( S-R Psychology ). Yang dimaksud dgn stimulus adalah semua obyek di lingkungan, termasuk juga perubahan jaringan dalam tubuh. Respon adalah apapun yang dilakukan sebagai jawaban terhadap stimulus, mulai dari tingkat sederhana hingga tingkat tinggi, juga termasuk pengeluaran kelenjar. Respon ada yang overt dan covert, learned dan unlearned
b.    Tidak mempercayai unsur herediter ( keturunan ) sebagai penentu perilaku. Perilaku manusia adalah hasil belajar sehingga unsur lingkungan sangat penting. Dengan demikian pandangan Watson bersifat deterministik, perilaku manusia ditentukan oleh faktor eksternal, bukan berdasarkan free will.
c.    Dalam kerangka mind-body, pandangan Watson sederhana saja. Baginya, mind mungkin saja ada, tetapi bukan sesuatu yang dipelajari ataupun akan dijelaskan melalui pendekatan ilmiah. Jadi bukan berarti bahwa Watson menolak mind secara total. Ia hanya mengakui body sebagai obyek studi ilmiah. Penolakan dari consciousness, soul atau mind ini adalah ciri utama behaviorisme dan kelak dipegang kuat oleh para tokoh aliran ini, meskipun dalam derajat yang berbeda-beda.
d.    Sejalan dengan fokusnya terhadap ilmu yang obyektif, maka psikologi harus menggunakan metode empiris. Dalam hal ini metode psikologi adalah observation, conditioning, testing, dan verbal reports.
e.    Secara bertahap Watson menolak konsep insting, mulai dari karakteristiknya sebagai refleks yang unlearned, hanya milik anak-anak yang tergantikan oleh habits, dan akhirnya ditolak sama sekali kecuali simple reflex seperti bersin, merangkak, dan lain-lain.
f.     Sebaliknya, konsep learning adalah sesuatu yang vital dalam pandangan Watson, juga bagi tokoh behaviorisme lainnya. Habits yang merupakan dasar perilaku adalah hasil belajar yang ditentukan oleh dua hukum utama, recency dan frequency. Watson mendukung conditioning respon Pavlov dan menolak law of effect dari Thorndike. Maka habits adalah proses conditioning yang kompleks. Ia menerapkannya pada percobaan phobia ( subyek Albert ). Kelak terbukti bahwa teori belajar dari Watson punya banyak kekurangan dan pandangannya yang menolak Thorndike salah.
g.    Pandangannya tentang memory membawanya pada pertentangan dengan William James. Menurut Watson apa yang diingat dan dilupakan ditentukan oleh seringnya sesuatu digunakan/dilakukan. Dengan kata lain, sejauh smana sesuatu dijadikan habits. Faktor yang menentukan adalah kebutuhan.
h.    Proses thinking and speech terkait erat. Thinking adalah subvocal talking. Artinya proses berpikir didasarkan pada keterampilan berbicara dan dapat disamakan dengan proses bicara yang ‘tidak terlihat’, masih dapat diidentifikasi melalui gerakan halus seperti gerak bibir atau gesture lainnya.
i.      Sumbangan utama Watson adalah ketegasan pendapatnya bahwa perilaku dapat dikontrol dan ada hukum yang mengaturnya. Jadi psikologi adlaah ilmu yang bertujuan meramalkan perilaku. Pandangan ini dipegang terus oleh banyak ahli dan diterapkan pada situasi praktis. Dengan penolakannya pada mind dan kesadaran, Watson juga membangkitkan kembali semangat obyektivitas dalam psikologi yang membuka jalan bagi riset-riset empiris pada eksperimen terkontrol.

3.       Clark L. Hull (1884-1952)
Clark Hull juga menggunakan variable hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian belajar. Menurut Clark Hull, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Oleh sebab itu Hull mengatakan kebutuhan biologis ( drive ) dan pemuasan kebutuhan biologis ( drive reduction ) adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus ( stimulus dorongan ) dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat berwujud macam-macam.
Prinsip-prinsip utama teorinya :
·         Reinforcement adalah faktor penting dalam belajar yang harus ada. Namun fungsi reinforcement bagi Hull lebih sebagai drive reduction daripada satisfied factor.
·         Dalam mempelajari hubungan S-R yang diperlu dikaji adalah peranan dari intervening variable (atau yang juga dikenal sebagai unsure O ( organisma ). Faktor O adalah kondisi internal dan sesuatu yang disimpulkan ( inferred ), efeknya dapat dilihat pada faktor R yang berupa output. Karena pandangan ini Hull dikritik karena bukan behaviorisme sejati.
·         Proses belajar baru terjadi setelah keseimbangan biologis terjadi. Di sini tampak pengaruh teori Darwin yang mementingkan adaptasi biologis organism.

4.       Edwin Guthrie
Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan. Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, sehingga dalam kegiatan belajar peserta didik perlu diberi stimulus dengan sering agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang.

5.       Burrhus Frederic Skinner ( 1904-1990 )
Konsep-konsep yang dikemukanan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun lebih komprehensif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku.
Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut. Skinner juga mengemukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah karena perlu penjelasan lagi.

3.    Bentuk Pendekatan Ganjaran
Ada lima kategori utama bentuk ganjaran positif yang dengan mudah diperoleh dalam kelas, yaitu :
a.    Ganjaran berupa pujian
Merupakan aset utama para guru, termasuk ucapan pujian ( “Wah hebat”, “Bagus sekali”, “Bapak senang kamu duduk di kelas ini” ),  pujian tertulis ( “Bagus sekali”, “ gambar bintang” ), ungkapan pujian ( senyum, anggukan, tepuk tangan, tepukan di bahu, acungan jempol, dsb. )
b.    Ganjaran berupa aktivitas
Berupa segala kegiatan yang dapat dinikmati dan menyenangkan peserta didik, misalnya, mendengarkan kaset, waktu bermain ekstra, berdiri paling depan dalam barisan, menghias dinding atau menggambar, dan sebagainya.
c.    Ganjaran berupa memamerkan hasil kerja
Memamerkan hasil kerja atau proyek yang dihasilkan oleh peserta didik juga akan menghasilkan pengakuan orang lain dan akan menunjang untuk berperilaku baik.
d.    Ganjaran berwujud atau penunjang bendawi
Bagi beberapa anak perlu diberikan ganjaran secara langsung dan sering. Hal ini berlaku bagi mereka yang masih muda. Mereka belum mengerti nilai ganjaran yang diberikan dalam bentuk pujian atau yang tidak berwujud. Untuk anak-anak ini perlu memakai ganjaran berupa bendawi. Ganjaran dalam wujud bendawi juga dapat diberikan dalam usaha mengubah perilaku yang terjadi secara tetap.
Ganjaran berwujud atau penunjang bendawi itu, sesuatu yang nyata dan berharga bagi peserta didik, termasuk permen, stiker, pensil, pembatas buku, kartu gambar, dll.
e.    Ganjaran berupa tanda kredit.
Ganjaran ini sendiri tidak bernilai tinggi, tetapi kelak dapat dipertukarkan dengan sesuatu yang berharga. Tanda kredit yang diterapkan di dalam kelas ini dapat dilaksanakan dengan mudah dan dapat memotifasi para peserta didik. Peserta didik memperoleh ganjaran berupa nilai, kepingan atau cap yang kelak dapat ditukarkan dengan fasilitas, benda-benda atau aktivitas khusus.
Sasaran akhir penerapan pemberian ganjaran adalah agar peserta didik terdorong dari dalam diri sendiri untuk berperilaku postitif. Jika hal ini terjadi, peserta didik tidak lagi membutuhkan ganjaran berupa aktifitas atau bendawi, Ia bersedia berperilaku positif , karena perilaku itu menyenangkannya. Menepuk dada sendiri atas hasil kerja yang memuaskan atau melakukan perbuatan baik merupakan ganjaran dari dalam atau intrinsik.

4.    Tujuan Pendekatan Ganjaran
Pemberian ganjaran bukan sogokan agar peserta didik mau melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Menyogok adalah membayar seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak sah atau tidak benar, misalnya, meminta teman untuk menyelesaikan urusan pelanggaran.
Banyak orang dewasa yang bekerja karena imbalan tertentu. Mereka tidak menganggap gaji mereka sebagai sogokan. Mereka mempoleh ganjaran untuk tugas yang telah mereka selesaikan. Mereka bekerja karena konsekuensi positifnya ( gaji ) lebih baik daripada tindakan lain ( tinggal di rumah )
Penerapan konsekuensi positif  ( ganjaran ) merupakan cara yang sangat effektif untuk mengajarkan apa yang harus atau tidak boleh dilakukannya.
Kerisauan kita bahwa peserta didik akan berperilaku keliru agar mendapat ganjaran. Kalau-kalau ada peserta didik tertentu akan menjadi pandai memanipulasi keadaan. Mereka akan belajar memanipulasi guru dengan berperilaku tidak baik agar memperoleh ganjaran pada saat mereka menunjukkan perilaku yang baik. Hal ini tidak akan terjadi, bila guru menguasai keadaan dan menentukan harapan berikut konsekuensinya.
Bentuk manipulasi perilaku ini hanya akan timbul jika guru tidak bersikap konsisten. Perilaku ini juga akan meningkat jika anak berada di atas angin, yaitu jika dibiarkan memanipulasi keadaan untuk keuntungan pribadinya.
Guru harus selalu bersikap konsisten dan memegang kendali untuk dapat menghindarkan tumbuhnya perilaku yang manipulatif. Guru harus konsekuen dengan apa yang sudah dikatakan dan harus menentukan peraturan berikut konsekuensinya. Meskipun guru memegang kendali, sebetulnya peserta didik sendirilah yang menentukan apa yang akan terjadi atas dirinya. Ini dapat dicapai dengan mencanangkan peraturan atau perilaku yang diharapkan berikut dengan konsekuensinya.
Kekawatiran para guru bahwa peserta didik itu selalu mengharapkan ganjaran untuk prestasinya sepanjang masa sekolahnya, peserta didik hanya akan berbuat seperti yang diharapkan untuk memperoleh ganjaran. Dalam arti tertentu hal ini memang benar. Karena itulah diharapkan para guru terus menerapkan pemberian ganjaran (berupa pujian) atas perilaku mereka yang pantas dalam masa pendidikan di sekolah. Bentuk dorongan semacam ini harus selalu ada dalam hubungan manusia. Namun demikian, ganjaran bendawi maupun aktivitas harus dihapuskan secepat mungkin karena sasaran sistem ini adalah agar peserta didik pada akhirnya mau melakukan fungsinya untuk memperoleh imbalan intrinsik. Maksudnya, peserta didik berperuilaku tertentu karena merasa senang dan ia mau melakukannya.
Jadi tujuan utama pemberian ganjaran adalah agar peserta didik sudi melakukan apa yang diminta atau diharapkan. Ganjaran sering mengubah motivasi peserta didik, akan mengubah perilaku peserta didik dalam menghadapi sesuatu yang semula dianggap tidak menarik menjadi sesuatu yang ingin dilakukannya.

5.    Hal-hal yang Perlu Diperhatikan
Ganjaran merupakan konsekuensi yang sangat kuat dan dapat dimanfaatkan untuk mengubah perilaku. Meskipun demikian ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan agar pemberian ganjaran itu dapat berhasil baik, yaitu :
a.    Ganjaran harus bersifat pribadi
Imbalan yang menjadi ganjaran bagi peserta didik yang satu mungkin tidak mempunyai pengaruh bagi peserta didik lain. Saat menentukan ganjaran bagi peserta didik tertentu, harus diperhatikan dengan seksama pada kebutuhan, minat dan kebiasaan pribadi anak itu. Buang jauh-jauh penilaian diri, apa yang penting bagi guru dan apa yang berhasil bagi anak lain. Guru perlu mengamati peserta didik dengan cermat dan mencoba mengenali hal-hal atau kegiatan yang penting artinya bagi peserta didik. Guru  sungguh-sungguh harus memasang telinga, memperhatikan mereka dalam bermain menanyakan apa yang paling disukainya, atau apa yang ingin dikerjakannya. Kebanyakan anak dapat dimotivasi dengan insentif, namun beberapa peserta didik memang sulit ditentukan.
b.    Ganjaran sosial harus selalu diberikan
Dalam pemberian insentif ( misalnya, bendawi atau aktivitas ), ganjaran berupa pujian ( misalnya, sapaan ramah ) harus selalu dikaitkan dengan perilaku itu. Seperti disinggung pada bab terdahulu bahwa tujuan utama pemberian ganjaran bendawi atau aktivitas adalah untuk memotivasi peserta didik agar mau berperilaku dengan cara tertentu. Namun pada akhirnya ganjaran intrinsik harus dapat menggantikan kedudukan, tetapi untuk ini pujian harus tetap diberikan mendampingi perilaku yang bersangkutan.
c.    Jangan memberikan ganjaran sebelumnya
Ganjaran harus berdasarkan pada perilaku dan selalu mengikuti perilaku. Jika ganjaran diberikan sebelum perilaku dilaksanakan, maka diperoleh hasil yng tidak memuaskan. Sebagai misal, kita membayar seseorang lebih dahulu untuk mengecat rumah, biasanya hasilnya akan setengah-setengah atau tidak memuaskan. Hal ini sama bila kita memberi ganjaran kepada peserta didik kemudian mengharapkan agar ia melakukan sesuatu, peserta didik melakukan sesuatu tidak dengan sungguh-sungguh/akan berpura-pura.
d.    Ganjaran yang seharusnya diterima harus diberikan
Peserta didik patut memperoleh ganjaran untuk perilaku tertentu, tetapi tidak jadi diterima karena ia melakukan suatu yang lain. Ini cara yang pasti untuk menghancurkan efektifitas sistim ganjaran. Ganjaran yang patut diterima harus diberikan.
Contohnya, guru mengatakan pada Budi “kalau kamu menyelesaikan tugas IPAmu, kamu boleh keluar kelas untuk istirahat”. Budi bekerja keras untuk menyelesaikan tugasnya. Ketika selesai, ia berjalan menuju meja guru untuk menyerahkan pekerjaannya. Tetapi, ditengah jalan ia memukulkan bukunya ke kepala Agus. Guru mengatakan, “Budi, kamu tidak boleh keluar kelas sekarang karena kamu memukul Agus”. Mulai saat itu sulit sekali memberikan dorongan pada budi untuk menyelesaikan tugas IPAnya.



e.    Ganjaran harus diberikan langsung sesudah perilaku dikehendaki
Jika peserta didik melakukan sesuatu pada saat ini, pantasnya ia mendapatkan ganjaran saat ini juga, bukan minggu depan atau bulan depan. Efektifitas ganjaran ditentukan oleh kaitannya dengan perilaku yang hendak dikendalikan.
Hasil guna pemberian ganjaran tidak ditentukan oleh kuantitas atau harganya, melainkan oleh kesertamertaannya. Karena itu ganjaran hendaknya diberikan secepat mungkin.
f.     Perbaikan harus mendapat ganjaran
Sistim ganjaran tidak berhasil karena guru mengharapkan perubahan terlalu banyak dalam waktu singkat, tetapi mereka tidak memberikan ganjaran pada perbaikan. Oleh karena itu dalam menerapkan sistim ganjaran, perilaku atau sasarannya harus dipecah dalam langkah demi langkah dan setiap perbaikan kecil ( peningkatan secara bertahap ) harus mendapatkan ganjaran. Tidak mungkin peserta didik mengadakan perubahan perilaku 100 % dalam satu malam. Sikap longgar atas kesalahannya lebih baik dalam hal ini. Jadi tidak mengharapkan perbaikan sebanyak 100%.
g.    Ganjaran perlu diganti
Tujuan penerapan pemberian ganjaran adalah untuk mengubah perilaku, pada gilirannya, minat dan sikap juga dimodifikasi. Karena itu, bentuk ganjaran yang pada awalnya berharga untuk peserta didik mungkin akan menjadi kurang efektif di kemudian hari. Mungkin peserta didik mulai akan bosan hingga bentuk ganjaran itu tidak berharga atau menarik lagi. Peserta didik akan kehilangan minat ada pemberian ganjaran yang selalu sama, maka ganjaran perlu diganti-ganti, tetapi tidak dalam waktu singkat.
h.    Ganjaran hendaknya mudah dicapai
Bila sistim ganjaran diterapkan untuk pertama kalinya, hendaknya tidak terlalu rumit atu sulit, Sebaiknya target disusun sedemikian rupa agar peserta didik dapat berhasil mencapainya, kemudian menerima ganjaran. Guru tidak menargetkan terlalu tinggi. Jika terlalu tinggi target kita dan peserta didik tidak mampu untuk mencapai target berikut insentifnya, seluruh sistim akan gagal.
Harapan hendaknya realistis hingga anak dapat memperoleh ganjaran. Peserta didik harus mampu memperoleh ganjaran dengan cukup mudah agar ia masuk dalam sistim tersebut. Hal ini akan memperbesar kemungkinan sistim ganjaran berikutnya menjadi efektif dan perubahan akan terjadi.

C.   Hubungan Pendekatan Ganjaran dengan Peserta Didik Overaktif
Tujuan penerapan pemberian ganjaran adalah untuk mengubah perilaku, pada gilirannya peserta didik terdorong dari dalam dirinya untuk berperilaku yang baik. Ia bersedia berperilaku tertentu , karena perilaku itu menyenangkannya. Peserta didik bangga pada hasil kerjanya yang memuaskan atau melakukan perbuatan baik merupakan ganjaran dari dalam atau intrinsik.
Sikap anak overaktif yang  selalu gelisah dan usil saat duduk, tidak bisa duduk diam, berlari saat ia seharusnya berjalan tenang, melompat dari aktifitas yang satu ke aktivitas yang lain, mengganggu anak lain, atau tampak seakan-akan tidak pernah berhenti bercakap, secara umum merupakan usaha anak untuk mendapatkan perhatian, oleh karena itu perhatian perlu diberikan pada anak overaktif terutama perhatian pada prestasi kerja yang dilakukannya, bukan memberi hukuman pada pelanggarannya. Perhatian itu diwujudkan dalam penghargaan atau ganjaran atas perubahan perilaku anak, bila guru telah berhasil mengubah perilakunya, maka guru mengaitkan dengan ganjaran ( kata sanjungan, pujian atau ganjaran yang lain ) dengan perilaku yang baru itu. Kebanyakan peserta didik mau melakukan banyak hal untuk mendapatkan kata sanjungan, sesuatu yang langka terjadi dalam kelas. Tindakan ini sudah cukup untuk merubah dan memelihara kelangsungan perilaku. Pada akhirnya peserta didik akan terus melakukan perilaku karena lebih menggembirakan dan menyenangkan ( ganjaran intrinsik ) untuk menyelesaikan tugas pada waktunya daripada membuang waktu dan menerima bentakan, dihukum atau konsekuensi negatif lain.

 
BAB III
PENUTUP

A.   KESIMPULAN
Dari segenap pembahasan yang telah dipaparkan, maka dapat diambil kesimpulannya, antara lain:
1.    Anak overaktif adalah anak yang perilakunya terlalu aktif yang diakibatkan oleh pengendalian diri yang kurang efektif dan tidak konsisten. Sebagian besar peserta didik ini oleh guru disebut sebagai “tukang melamun”, “tidak pernah mennyelesaikan tugas”, “tidak bisa duduk tenang”, “selalu berpindah-pindah tempat duduk atau berlari-lari di kelas”, “gelisah”, “ceroboh”, “hanya mengikuti dorongan hati”, “mudah mengalihkan perhatian”, “banyak bicara”.
2.    Peserta didik yang overaktif memerlukan penanganan khusus yakni dengan teknik pengendalian dalam kelas maupun dalam teknik pemberian ganjaran.
3.    Pendekatan ganjaran adalah teknik pengendalian perilaku anak dengan memberi sesuatu yang berfungsi sebagai insentif , sesuatu yang penting bagi anak dan memperbesar kemungkinan terulangnya perilaku yang diinginkan.
4.    Teori belajar behavioristik merupakan landasan filosofis pentingnya pendekatan ganjaran terutama bagi peserta didik overaktif.
5.    Sikap overaktif peserta didik dapat diatasi dengan mengaplikasikan atau menerapkan pendekatan ganjaran yakni dengan lebih memberikan penguatan ( reinforcement ) positif pada setiap tingkah laku peserta didik.

B.   SARAN
Sebagai calon guru Sekolah Dasar mahasiswa hendaknya perlu memahami pentingnya ganjaran positif dalam setiap tingkah laku atau umpan bailik peserta didik  dalam kegiatan pembelajaran terutama bagi peserta didik yang overaktif.


DAFTAR PUSTAKA


Ali, Muhammad, 1975, Kamus Besar Bahasa Indonesia Modern, Jakarta: Pustaka Amani.
Bimo Walgito, 1995, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, Yogjakarta: Andy Offset.
Djumhur dan Moh.Surya, 1975, Bimbingan dan Penyuluhan Di Sekolah, Bandung: CV.Ilmu.
Kartini Kartono, 1985 , Mengenal Dunia Kanak-Kanak, Jakarta: CV. Rajawali.
Mallary M.Collins, 1992 diterjemahkan oleh Ny.Kathleen Sri Wardhani, Mengubah Perilaku Siswa, Jakarta: PT.BPK.Gunung Mulia.
R.I. Suhartin, 1989, Mengenal Kesulitan-kesulitan Dalam Mendidik Anak, Jakarta: BPK. Gunung Mulia.
Sofyan S. Willis, Drs.August Setyawan, 1984, Membina Kebahagiaan Murid, Bandung: Angkasa.
Tamrin Nasution, Nurhalimah Nasution, 1989, Peranan Orangtua Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Anak, Jakarta: BPK.Gunung Mulia.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar